Senin, 12 Maret 2012

Mengenal Bilangan dan Sejarahnya

Sebelum mempelajari matematika lebih dalam, alangkah baiknya jika kita mengetahui sejarahnya. Secara umum, kita dapat mendefinisikan sejarah matematika sebagai sebuah penyelidikan terhadap asal mula matematika itu ada dan perjalanan matematikawan yang melakukan usaha-usaha dalam setiap penemuannya. Dengan menggunakan logika, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran dan pengkajian yang sistematis.

Dalam belajar matematika, tentu kita tidak pernah terpisah dari apa yang kita sebut bilangan.  Bilangan adalah suatu objek matematika yang digunakan dalam pencacahan dan pengukuran. Perlu kita ketahui, bilangan dan angka itu berbeda. Mungkin diantara kita, ada yang belum mengetahui tentang adanya perbedaan itu. Dalam matematika, sebuah angka digunakan untuk melambangkan bilangan dan itu merupakan suatu objek abstrak dalam matematika. Bagi orang-orang awam, angka dan bilangan seringkali dianggap sebagai sebuah objek yang sama. Memang bahasa Indonesia belum cukup baku digunakan sebagai alat komunikasi matematika, sehingga belum ada pernyataan resmi bahwa angka dan bilangan melambangkan dua hal yang sangat berbeda.

Bilangan juga memiliki sejarah. Sebagai pembelajar matematika, kita perlu mengetahui bagaimana sejarah dari bilangan. Pada awalnya bilangan hanya digunakan untuk mengingat jumlah oleh bangsa yang bermukim di sepanjang sungai-sungai besar. Seperti, bangsa Mesir di sepanjang Sungai Nil Afrika, bangsa Babilonia di sepanjang sungai Tigris dan Elfrat, bangsa Hindu di sepanjang sungai Indus dan Gangga serta bangsa China di sepanjang Sungai Hoang ho dan Yang Tze. Mereka memerlukan perhitungan dan penanggalan yang bisa dipakai untuk menandai adanya perubahan musim. Sehingga diperlukan alat-alat pengukur untuk mengukur persil-persil tanah yang dimiliki. Peningkatan peradaban juga memerlukan cara menilai kegiatan perdagangan, keuangan dan pemungutan pajak. Untuk keperluan praktis itu, maka dibutuhkan bilangan-bilangan untuk mempermudah perhitungan. Dahulunya, bilangan juga digunakan sebagai simboluntuk menggantikan suatu benda misalnya kerikil, ranting dan lainnya yang masing-masing bangsa memiliki cara tersendiri dalam menggambarkan bilangan dalam bentuk simbol. Dalam perkembangannya, pada abad ke-X ditemukan manuskrip Spanyol yang memuat penulisan simbol bilangan oleh bangsa Hindu-Arab Kuno dan cara penulisan itu yang menjadi cikal bakal penulisan simbol bilangan seperti yang kita gunakan hingga saat ini.

Senin, 05 Maret 2012

Memandang Estetika Dari Sejarah Matematika

Sering kita mendengar kata estetika, namun kita kurang mengerti akan makna estetika itu sendiri. Terkadang kita juga mengartikan kata estetik dan estetika dengan makna yang sama. Sekilas memang tampak bahwa kedua kata itu sama namun sebenarnya keduanya itu berbeda makna. Estetik merupakan sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, sedangkan Estetika merupakan hal-hal yang berkaitan dengan seni. Seni sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu yang bisa kita lihat, dengar, rasakan dan kita nilai dengan unsur keindahan. Bisa dikatakan bahwa estetika dan estetik itu berkaitan, karena seni dan perasaan memang saling berpengaruh satu sama lain.
Seni tidak terbatas pada bidang-bidang khusus, seperti seni lukis, seni musik, dan jenis seni  lainnya, namun seni juga terdapat pada ilmu pengetahuan terutama matematika. Matematika memiliki nilai keindahan. Banyak aspek estetika yang terkandung dalam matematika. Matematika tidak identik dengan angka, tetapi matematika bisa berupa kata-kata. Seperti kita tahu, dalam soal cerita matematika biasanya ditulis dengan kata-kata yang di dalamnya terdapat suatu teka-teki. Nilai keindahan dalam teka-teki matematika itu terletak pada uraian bahasanya dan keindahan dari bahasanya itu merupakan bagian dari estetika. Pada dasarnya estetika dari matematika dapat ditemukan, tergantung pada masing-masing individu menyikapinya.
Salah satu sisi lain dari matematika, adalah sejarahnya. Sejarah matematika merupakan bagian dari matematika. Sejarah matematika terbentang dari sekitar 4000 SM hingga kini serta memuat sumbangan dari ribuan tokoh matematika. Sejarah matematika memperlihatkan bagian dari matematika yang berkaitan dengan perkembangan matematika yang terekam dalam kebudayaan besar : Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani Kuno, India Kuno, China Kuno, Arab Kuno, Persia, dan Eropa Kuno, serta zaman modern yang sebagian besar terpusat di Eropa. Sejarah matematika tidak saja ada karena keberadaannya merupakan suatu keniscayaan, tetapi juga penting karena dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan dan pembelajaran matematika.  
Banyak matematikawan berbicara tentang keanggunan dari matematika dan estetika yang tersirat di dalamnya. Kesederhanaan dan keumumannya dihargai. Terdapat keindahan di dalam kesederhanaan dan keanggunan bukti yang diberikan, misalnya bukti Euclid, yaitu terdapat tak terhingga banyaknya bilangan prima, dan di dalam metode numerik yang anggun bahwa perhitungan laju, yakni transformasi Fourier cepat. G.H Hardy dalam A Mathemacian’s Apology mengungkapkan keyakinan bahwa penganggapan estetika ini, cukup untuk mendukung pengkajian matematika murni. Para matematikawan sering bekerja keras menemukan bukti teorema yang anggun secara khusus. Selain itu, Estetika matematika juga bisa disebut matematika rekreasi. Rekreasi dapat diartikan sebagai keadaan dimana seseorang sedang menikmati suatu hal, salah satunya keindahan. Leonardo Da Vinci, pelukis lukisan monalisa, ternyata adalah penggemar matematika. Meskipun ia bukan seorang matematikawan, beliau sering menggunakan persamaan matematika sebelum melukis. Beliau melakukan ini semata-mata untuk kepuasan bathin agar lebih leluasa dalam mendapatkan inspirasi melukis. Dapat disimpulkan bahwa, di dalam sejarah matematika tidak hanya memuat kronologi perkembangan teorema dari zaman ke zaman. Namun, di sisi lain kita bisa melihat adanya estetika yang terkandung dalam sejarah matematika serta keberadaan matematika yang juga berpengaruh dalam penciptaan sebuah estetika atau seni.

Sumber :