Jumat, 13 April 2012

Dibalik Lahirnya Bilangan Prima, Pi(π) , dan Imajiner

Jika kita mengenal matematika, tentunya kita juga mengenal bilangan. Karena bilangan merupakan bagian utama dari ilmu matematika. Menurut definisi, bilangan diartikan sebagai  suatu objek yang digunakan dalam pengukuran dan pencacahan. Seperti yang kita tahu, matematika memiliki sejarah begitu pula dengan bilangan. Bilangan juga memiliki sejarah.  Masyarakat  terdahulu menggunakan bilangan hanya untuk menghitung  jumlah bangsa. Namun dalam perkembangannya,  mereka memerlukan perhitungan dan penanggalan yang bisa digunakan untuk menandai adanya perubahan musim.  Namun seiring bergulirnya waktu, masyarakat juga memerlukannya untuk kegiatan perdagangan , keuangan, dan juga pemungutan pajak. Dalam perkembangan selanjutnya, bangsa Hindu-Arab Kuno memuat penulisan mengenai simbol bilangan. Nah, simbol itulah yang menjadi bibit dalam penulisan simbol bilangan seperti yang kita jumpai dan kita gunakan saat ini. Bilangan itu bermacam-macam. Tiga diantara bermacam-macam bilangan itu adalah bilangan prima, bilangan Pi (π) , dan bilangan imajiner. Masing-masing bilangan itu mempunyai sejarah. Dalam tulisan ini, saya akan mengulik sedikit mengenai sejarah ketiga bilangan tersebut.
Kita tentu tahu apa itu bilangan prima dan bagaimana cirinya. Bilangan prima merupakan bilangan yang lebih dari 1 dan hanya bisa dibagi dengan 1 dan bilangan itu sendiri. ­Manusia telah mengenal bilangan prima sejak 6500 Sebelum Masehi. Pembuktian bilangan prima ada pada penemuan Tulang Ishango di sungai Nil (timur laut Kongo). Tulang Ishango berisi sederetan tanda lidi yang digoreskan di tiga lajur memanjang pada tulang itu. Salah satunya memiliki 11,13,17,dan 19 tanda lidi, dan itu merupakan bilangan prima antara 10 hingga 20. Ada beberapa matematikawan yang berpengaruh dalam perkembangan bilangan prima. Salah satunya adalah Eratosthenes. Beliau adalah orang yang menemukan cara untuk mencari bilangan prima pada abad ke-3 Sebelum Masehi. Cara tersebut dikenal dengan nama Saringan Eratosthenes. Eratosthenes merupakan salah satu matematikawan yang memberikan sumbangan terpenting dalam matematika dan ilmu sains.
Selain bilangan prima, kita juga mengenal bilangan Pi. Simbol bilangan Pi adalah π . Mungkin tidak semua orang tahu akan sejarah bilangan Pi. Penggagas pertama bilangan Pi adalah Archimedes . Dengan sederhananya beliau melakukan sebuah percobaan dengan merentangkan tali untuk mengukur keliling sebuah lingkaran, lalu beliau pun mengukur diameternya. Nah, yang disebut nilai Pi itu adalah perbandingan antara keliling lingkaran dan diameternya itu. Memang terlihat simpel. Itulah yang dilakukan orang terdahulu dalam menemukan Pi. Mungkin pada waktu kita SD , guru kita mengajarkan bahwa nilai Pi itu  . Namun perlu kita ketahui, Pi bernilai   hanyalah sebuah pendekatan. Jika kita hitung  itu hasilnya adalah 3,142857142857142857 ... sedangkan π(Pi) itu bernilai 3,141592653589793238 ... Tentu saja nilai   itu lebih besar dari nilai bilangan Pi yang sebenarnya.
Salah satu bilangan yang menarik adalah bilangan imajiner. Kita mungkin sering menjumpai bilangan tersebut ketika kita sedang memecahkan sebuah persamaan kuadrat. Misalnya persamaan x2= -1, keberadaan bilangan imajiner itu tidak dapat dihindari lagi. Bilangan imajiner juga mempunyai sejarah. Bilangan imajiner sendiri dapat disebut sebagai musibah aljabar. Kisahnya berawal dari Chequet yang menyebut bahwa fenomena seperti persamaan x2= -1 itu tidak mungkin terjadi. Sedangkan, Aljabar dari Newton menyatakan bahwa persamaan dengan solusi suatu akar atau dua bilangan negatif adalah mungkin, tetapi tidak mungkin apabila hasil akar keduanya negatif. Cardano juga merombak pemikiran diatas dengan cara berpikir yang berbeda. Namun, semua itu dituntaskan oleh Gauss dengan membuat Sistem Koordinat Kartesian dengan format a+bi menempatkan bilangan imajiner pada sistem koordinatnya, dimana i adalah   . Format persamaan tersebut disebut dengan bilangan kompleks.
Dapat kita ketahui bahwa ada sejarah di setiap bilangan-bilangan dalam matematika. Kita juga melihat bagaimana bilangan itu bisa ada dan sumbangsih dari para matematikawan dalam mengembangkan ilmu matematika terutama teori mengenai bilangan seperti yang kita pelajari hingga saat ini.



Sumber :

1 komentar: